Thursday, May 5, 2016

Pendidikan Indonesia; Dari Gagasan Ki Hajar Dewantara Hingga NAWACITA Jokowi-JK.


MALUKU Menulis - Tepat di saat bangsa ini merayakan hari pendidikan nasional beberapa hari yang lalu, masyarakat di penjuru negeri ini justeru dikejutkan oleh sebuah kabar yang cukup menghentak dunia pendidikan Indonesia yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa terhadap dosennya di kampus Universitas Muhammmadiyah Sumatera Utara (UMSU). Kabar tersebut seakan menjadi anti klimaks dari sejuta harapan, yang selama ini diletakkan di pundak para pelajar dan mahasiswa demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Alih-alih mencapai kemajuan kualitas pendidikan, masyarakat malah terpaksa harus menerima kenyataan pahit, bahwa tindakan tak bermoral yang dilakukan, baik oleh tenaga pendidik, maupun peserta didik di negeri ini, masih sering menghiasi berbagai pemberitaan di media cetak maupun elektronik, padahal di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS BAB I pasal 1 (1) dijelaskan tentang tujuan pendidikan adalah : Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar mengajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif, mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Ki Hajar Dewantara di zamannya mengkritik pendidikan ala barat karena dianggap bersifat regering, tucht, orde (Perintah, hukuman, ketertiban). Sistem pendidikan ini dianggap tidak cocok diterapkan di Indonesia, karena dapat merusak pribadi anak didik, akibat banyaknya hukuman dan tekanan. Anak didik yang melalui sistem pendidikan ini, akan menjadi pribadi yang pemarah dan tempramental, sehingga bisa saja berdampak buruk terhadap masyarakat. Namun apa yang pernah dikritik oleh bapak pendidikan itu nampaknya hari ini seakan-akan menjadi sesuatu yang lazim dipraktekkan di dalam lembaga-lembaga pendidikan kita baik secara fisik maupun psikis. Hukuman yang diberikan kepada peserta didik di ruang-ruang kelas, tentu meninggalkan endapan amarah yang suatu saat bisa saja meledak jika sudah tak mampu dibendung.

Dalam sembilan agenda NAWACITA JOKOWI-JK pada poin kesembilan tertulis : ” Melakukan revolusi karakter bangsa, melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional, dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia”. Itu artinya bahwa pemerintahan JOKOWI-JK sudah memasukkan agenda “Revolusi pendidikan” dalam lima tahun masa kepemimpinannya. namun pertanyaannya apakah masyarakat hanya bisa menanti realisasi dari agenda tersebut? Tentu menanti saja adalah sesuatu yang sungguh naif. NAWACITA adalah upaya penegasan akan sebuah komitmen tentang perubahan wajah pendidikan Indonesia yang selama ini hanya mengejar nilai aksidental semata, bukan nilai yang bersifat substansial. Metode penilaian tersebut terlihat pada fenomena antara lain, sistem penilaian di bangku pendidikan formal yang hanya mengutamakan angka-angka, tanpa memperhatikan secara serius masalah proses yang dilalui, apakah melalui cara-cara yang fair atau tidak, metodologi belajar yang cenderung mengarahkan pelajar untuk saling berkompetisi, bukannya saling sharing pengetahuan.

The winner is the fastest adalah gambaran yang tepat pada proses yang terjadi dalam sebuah ruang kelas sehingga hal ini memicu ditempuhnya jalan-jalan yang tak fair demi menyelesaikan studi secepat mungkin. Nilai terhadap kualitas pendidikan sejatinya adalah sesuatu yang bersifat substansial bukan semata-mata diukur berdasarkan angka, bukan juga seberapa cepat masa penyelesaian studi. Nilai itu semestinya menggambarkan seberapa matang seseorang untuk dinyatakan sebagai manusia terdidik. Untuk itu maka pendidikan bukan hanya diarahkan untuk menyiapkan sesorang melihat dunia, tapi juga menyiapkan pribadi-pribadi yang siap menghadapi dunia. Sudah saatnya kita mengganti cara-cara ortodoks, dalam proses pendidikan dengan cara yang lebih humanis yang tidak lagi memandang peserta didik sebagai objek dalam proses pembelajaran. Namun lebih sebagai partner sehingga diharapkan akan terbangun hubungan emosional yang kondusif antara kedua belah pihak, selanjutnya proses belajar akan semakin nyaman sehingga pada akhirnya belajar bisa lebih maksimal dan menghasilkan manusia-manusia cerdas sekaligus humanis.

Penulis : Abdul Ajiz Siolimbona

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon